Rieke Diah Pitaloka: Seni dan Budaya Pondasi Kebijakan Pembangunan

Jakarta, C&R Digital - Aktris dan politikus Rieke Diah Pitaloka prihatin dengan nasib para seniman tradisional yang kerap kali dipandang sebelah mata. Wanita kelahiran Garut, Jawa Barat, 8 Januari 1974 itu ingin memperjuangkan nasib para seniman tradisional yang dinilainya memiliki aset luar biasa.

Pemeran Oneng dalam Sitkom Bajaj Bajuri itu berpendapat seni dan budaya merupakan potensi luar biasa yang mampu menjadi sumber devisa jika dikelola dengan benar.

"Seni dan budaya harus menjadi pondasi semua kebijakan pembangunan supaya rakyat tidak dicabut dari akarnya. Itu potensi yang luar biasa. Bukan hanya sekadar menghibur orang," katanya, Kamis lalu. Rieke saat ini masuk bursa pencalonan gubernur Jawa Barat.

Rieke berjanji akan memperjuangkan dan memperhatikan nasib para pekerja seni, khususnya seniman Sunda. Ia ingin memberikan wadah kepada seniman sehingga mereka tetap hidup di tengah hiruk pikuk modernisasi.

"Setiap ke daerah, saya pasti bertemu dengan seniman tradisional. Banyak banget. Nantilah, ada saatnya akan dibuat kejutan di seni dan budaya," tutur penulis buku Renungan Kloset itu.

Karir politik yang saat ini dijalani tidak menghalangi ibu tiga anak ini dalam melakukan kegiatannya sebagai seorang seniman.

Saya pekerja seni, politik dan seni seperti mata uang di dua sisi yang berbeda. Saat jadi pekerja seni, saya tidak hanya mencari uang, tapi saya sadar betul, bahwa karya saya, entah itu sinetron atau film, naskah teater atau film, monolog, menulis puisi itu bisa mempengaruhi banyak orang," jelasnya.

"Tapi kemudian politik juga butuh seni. Karena kita tidak mungkin berkarya, sebagai pekerja seni yang bisa dinikmati orang lain, mau menyanyi itu pakai ekspresi. Kalau saya tidak menghayati peran Oneng, ya kumaha. Tidak berhasil jadi oon dong. Jadi itu pakai perasaan dan empati," imbuhnya. 

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Pilihan