'Mama Papa Larang' Makin Teguhkan Cinta Judika - Duma Riris

KAPANLAGI.COM - Penyanyi Judika tidak menampik kalau single terbarunya, Mama Papa Larang terinspirasi pengalaman pacarannya dengan Duma Riris Silalahi,yang tidak mendapat restu orang tua sang pacar.

"Ya itu, yang aku buat dalam waktu yang singkat. Karena hubungan percintaan, hubungan sama pacar aku mengalami kendala, mengalami masa susah-susahnya. Karena kita belum dapat restu dari orang tua," ungkap Judika usai tampil di konser Karya Anak Bangsa, di Balai Sarbini, Jakarta, Jumat (23/11.

"Itu aku ciptain waktu belum ketemu sama mama-papanya. Terus aku sering dapat info kalau dia sering di-sms, disuruh untuk putus. Jadi aku suka sedih," sambungnya.

Lagu itu pulalah yang membuat Judika dan kekasihnya terus mempertahankan hubungan. Karena cinta memang harus diperjuangkan sampai tujuan bisa tercapai.

"Aku bikin lagu ini memang lebih menguatkan supaya dia yakin aku tetap sayang sama dia. Ya kita tetap berjuang untuk hubungan ini, walau kita nggak tau jodoh apa nggak. Aku ciptain lagu itu, saat kita mengalami itu. Itu curhat-curhat aku," ungkapnya.

Tapi menurut Judika, semua orang pernah mengalami seperti dirinya. Semua orang pasti ada masalah dalam hubungannya. Mungkin karena beda prinsip, beda agama, sehingga orang tua tidak merestui.

Lagu itu, lanjut Judika, bukan spesifik karena orang tua tidak suka hubungan anaknya. Tapi lebih kepada orang yang memperjuangkan cintanya. "Aku ingin motivasi lewat lagu ini supaya mereka tetap fight until the end,” tegasnya.

Sementara malam itu, Judika memilih membawakan lagu Aku Yang Tersakiti. Mengapa tidak membawakan lagu Mama Papa Larang?

"Karena lagunya yang diminta itu. Sebenarnya aku banyak lagu yang sebenarnya hits, tapi menurut mereka lagu itu di-request untuk malam ini," ujarnya usai pentas.

Alasan lain, Mama Papa Larang belum boleh dinyanyikan di konser Karya Anak Bangsa, karena lagu-lagunya harus sudah hits dulu. "Mama Papa Larang itu belum terlalu hits, kita masih promosi untuk lagunya, jadi belum terlalu familiar di mata pemirsa," katanya. (kpl/ato/uji/dar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Terkini