Kiki Amalia Mengaku Punya Anak Biologis, Markus Horison Tantang Tes DNA

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Danang S. Prabowo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Dalam gugatan cerai yang diajukan Markus Horison kepada istrinya Kiki Amalia, memang tidak menyebutkan soal hak asuh anak.

Sedangkan Kiki pernah menyebut dirinya mempunyai anak dari pernikahannya dengan Markus. Hayoo, ngaku aja, yang bener yang mana?

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum Markus, Sangap Surbakti, mengatakan hal yang perlu digarisbawahi adalah dalam gugatan tidak disebutkan soal anak dikarenakan Markus memang benar-benar belum mempunyai anak biologis dari rahim artis berlesung pipi.

"Menurut Markus seperti itu (tidak punya anak). Bila ada tes DNA, dia siap. Itu yang membuat gundah keluarga besar, " ujar Surbakti saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Senin (14/1/2013).

Saat ditanya apakah alasan menggugat cerai karena masalah penghasilan, Surbakti enggan menjawabnya. Menurutnya saat ini tidak tepat mengutarakan hal tersebut karena proses mediasi saja belum dimulai.

"Itu nanti saja. Kita masih proses mediasi, enggak mau melangkahi, menjustifikasi pihak-pihak. Melihat fakta-fakta juga," cetusnya.

Mengenai kemungkinan rujuk, Surbakti menuturkan kemungkinan tersebut selalu ada namun itu bisa terjadi bukan hanya dari satu pihak. "Sebenarnya sudah dimulai dari pertengahan 2012, komunikasi Markus ke Kiki. Cuma ya tidak ada respon yang positif. Enggak ada hasil apa-apa, tawaran solusi lain juga enggak ada," tandasnya.

BACA JUGA:

Ada kemungkinan Kiki Amalia dan Markus rujuk?
Sidang cerai pertama, Kiki dan Markus absen
Markus hanya minta cerai, tak minta harta
Kiki Amalia bicara soal perceraiannya
Penyebab Markus gugat cerai Kiki Amalia

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Pilihan