Ki Kusumo: Lebih Baik DPR Urus Century Daripada RUU Santet

KAPANLAGI.COM - Paranormal Ki Kusumo menantang DPR, selaku pembuat undang-undang agar bersikap objektif dalam pembahasan rancangan undang-undang (RUU) tentang santet.

Sebelum mengesahkan rancangan undang-undang menjadi undang-undang, Ki Kusumo menyarankan agar DPR mengundang para pakar yang memahami masalah santet, seperti dirinya untuk berpendapat. Karena undang-undang ini bisa berpotensi menimbulkan kekacauan di masyarakat.

"Jangan meminta pendapat dari orang yang tidak mengerti persoalan santet. Saya bersedia datang ke DPR kalau diminta menjelaskan persoalan ini," katanya di Jakarta, Sabtu (16/3).

Ketua Umum Komando Pejuang Merah Putih (KPMP) ini menegaskan, untuk membuktikan tindak pidana santet, hal tersebut sangatlah sulit karena irasional. Maka dari itu santet tidak bisa dimasukan ke ranah pidana.

Bagi Ki Kusumo sangat sulit membawa barang bukti dari terpidana karena masalah santet. Silet, paku dan jarum yang selama ini identik dengan santet, dapat dibeli di mana saja. "Harus jelas batasannya," katanya.

Jika RUU tersebut disahkan, Ki Kusumo khawatir hal tersebut bisa digunakan oleh orang-orang jahat dengan menyebarkan fitnah bahwa orang yang tidak disukainya adalah seorang atau pengguna santet.

Produser yang sekaligus paranormal itu menolak pengesahan RUU santet disahkan menjadi UU. "Lebih baik, pemerintah dan DPR mengurusi persoalan yang lebih besar, misalnya kasus Century atau pengemplang pajak negara yang nilainya triliunan rupiah," pungkasnya. (kpl/aal/dar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Pilihan