Kecepatan Mobil Dul Hingga 200 Km Per Jam?

KAPANLAGI.COM - Kecelakaan maut yang dialami Abdul Qodir Jaelani atau Dul, putra bungsu Ahmad Dhani dan Maia Estianty di KM 8200 Tol Jagorawi, Minggu (8/9) dini hari menimbulkan banyak asumsi. Salah satunya soal kecepatan kendaraan yang dikemudikan Dul.

Dari kronologi yang diutarakan pihak kepolisian, mobil Mitsubishi Lancer dengan nomor polisi B 80 SAL yang dikendarai Dul dari arah Bogor sedang melaju menuju Jakarta dan menabrak pembatas jalan hingga kendaraan melompati pagar dan langsung berada di jalur yang berlawanan arah. Di saat bersamaan, minibus Grand Max dengan nomor polisi B 1349 TFM yang ditumpangi 13 orang melaju dari arah Taman Mini menuju Cibubur lalu diseruduk Avanza D 1882 UZJ dari belakang.

Dari kronologi tersebut banyak dikabarkan Dul mengendarai mobil pada kecepatan tinggi. Bahkan, kakak Dul, Al sempat mengungkapkan bahwa adiknya berkendara hingga kecepatan 200 km per jam.

Namun, Kabid Huma Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto belum bisa memastikan perihal kecepatan tersebut. Pihak kepolisian masih menunggu hasil olah TKP dari penyidik.

"Belum mendapatkan hasil itu, karena masih menunggu hasil dari olah TKP, hasil 80 km per jam itu adalah saat mobil kami temukan saat waktu berhenti," ungkap Rikwanto saat ditemui di Polda Metro Jaya, Senin (9/9).

Selain itu asumsi 200 km per jam juga belum bisa dipastikan. "Itu (200 km per jam) juga belum bisa dipastikan karena yang kami pakai adalah fakta di lapangan," pungkasnya.

#Seputar Kecelakaan Dul:

Ahmad Dhani Bantah Mobil Yang Dikendarai Dul Hadiah Ulang Tahun
Polisi Baru Akan Lakukan Pemeriksaan Setelah Dul Pulih
Siuman, Dul Tak Mau Ditinggal Maia Estianty
Nantinya Vonis Dul Separuh Hukuman Orang Dewasa
Pacar Dul Akan Diperiksa Sebagai Saksi

#Baca Juga Fakta Berikut:

10 Kue Yang Bikin Nafsu Makan Hilang
10 Olahragawan Ganteng Ketika Kenakan Jas
10 Arsitektur Brutal Dari Eropa Timur
10 Kue Pernikahan Paling Buruk Yang Pernah Dibuat
10 Kota di Dunia Ini Dipenuhi Kasus Pembunuhan (kpl/pur/sjw)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Pilihan