Joey Mead King: I Was Born To Be A Model

Joey datang ke hadapan kami sedikit terlambat, tapi tetap dengan wajah ceria. Tanpa banyak ditanya, ia langsung bercerita panjang lebar bahwa alasan keterlambatannya karena baru saja selesai melakukan photoshoot dengan Nigel Barker dan ada fashion emergency pascapemotretan. Ya, Joey memang terlahir untuk menjadi model dimana pun ia berada. Waktu singkatnya di Jakarta minggu lalu tetap saja diisi dengan agenda pemotretan bersama sesama rekan jurinya dari acara pencarian bakat serupa. Selain lihai berpose, mantan VJ ini juga berbakat menjadi sahabat bagi semua orang yang beruntung untuk mengobrol dengannya. Seperti ketika ia membuat kami nyaman mengobrol panjang dengannya seperti sudah berteman lama.

Saya terlahir untuk jadi model

Ya, saya memang “lahir” untuk pekerjaan ini. Saya punya “otak model” yang membuat saya bisa berpikir cepat harus berpose seperti apa di bermacam-macam situasi atau dengan cerdik memeragakan baju atau apapun barang agar terlihat bagus. Model menurut saya juga harus menjadi aktris yang baik. Saya sering sekali harus memeragakan perhiasan berlian dan membuat itu tampak mahal serta desirable. Padahal di kenyataannya, saya sebenarnya nggak menemukan keindahan dari berlian. Itu sebabnya, untuk cincin pertunangan dan nikah, saya bukan berlian. Cincin berharga itu dihiasi dengan kombinasi batu topaze lazuli, garnet, batu karang, dan lain-lain yang berwarna tosca, warna favorit saya.

Jiwa saya sebagai fashion model profesional juga bisa dilihat dari foto saya dengan body painting bergambar bendera Filipina untuk sebuah majalah di tahun 2008. Terlepas dari pro dan kontra tentang foto tersebut, saya ingin menunjukkan kalau saya adalah model yang baik. Saya bisa menyembunyikan, mengaksentuasi, bahkan memanipulasi sesuatu agar terlihat meyakinkan dengan kemampuan olah tubuh dan wajah saya. Di foto tersebut, payudara saya terlihat indah dan kencang, padahal payudara saya jelas tidak seperti kriteria payudara indah dan diinginkan oleh kebanyakan orang. Tapi, saya punya triknya. Saya berpose mengangkat tangan hingga membuat payudara saya terangkat dan tampak bagus. Bagi saya, pose itu bukan seksi, tapi seni. Menjadi fashion model dan melakukan pose tanpa busana adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan, and I’m cool with it.

 

Saya perempuan monogamis

My husband is amazeballs. Saya sangat diberkati memiliki Ian King di dalam hidup ini. Tak mudah menemukan partner hidup secocok saya dengannya. Dari begitu beragamnya perjalanan asmara, saya menemukan apa yang saya cari dari dirinya. Kami adalah pasangan yang sangat nggak konvensional. Kami menikah di Beverly Hills, Los Angeles, dua tahun lalu, pada jam 7 pagi, hanya di Town Hall (seperti catatan sipil-red) dengan mengenakan t-shirt dan jeans. Setelah itu, kami merayakannya berdua dengan minum kopi. I love the way we’re getting married, karena kami bukanlah orang yang terlalu senang dengan pesta besar. Baru setelah itu, kami mengadakan resepsi bersama keluarga besar dengan hiburan musik, catering, dan tamu yang cukup banyak, yang menurut kami semuanya sempurna.

Kehadiran suami saya membuat perubahan dalam hidup. Seumur hidup, saya tak pernah memiliki dan terpikir untuk membeli rumah. Dulu, hidup saya berpindah-pindah dari menyewa apartemen satu ke apartemen lainnya. Namun setelah menikah, ia langsung memutuskan untuk membeli rumah dan ternyata saya menyukai gaya hidup permanen seperti itu. Romantiskah rumah tangga kami? Ya, bisa dibilang begitu. Ian adalah suami yang perhatian dan berperilaku manis. Sebagai lelaki, ia terkadang memang harus diingatkan untuk me-recharge hubungan kami dengan date night atau ritual mencium seperti pertama kali bertemu, tapi sejauh ini ia tetaplah suami terbaik yang bisa saya miliki. Saya selalu merasa nyaman bila bersamanya tanpa harus melakukan kegiatan apapun. Berdiam di rumah sambil tetap  sibuk melakukan kegiatan kami masing-masing, namun kaki kami saling bersentuhan, itu sudah jadi hal tak ternilai untuk kami.

Sementara untuk soal keturunan, naluri keibuan saya kini tercurah untuk 8 hewan peliharaan kami dan pasti juga akan keluar dengan sendirinya bila saya dikaruniai anak. I would be the happiest queen if one day I can have the little King.

 

Saya dan Nadya Hutagalung

Hubungan saya dan Nadya Hutagalung bisa dibilang lucu. Jalan hidup dan pekerjaan kami sering sekali bersilangan jalan, yang akhirnya benar-benar intens bertemu sekarang. Dulu saat kami masing-masing menjadi VJ, kami berada di dua channel yang serupa namun “bersaing”. Lalu, Ian sempat menjadi fans Nadya dan punya cerita lucu saat mengejar foto bareng dengannya. Kemudian, suami saya dan Nadya berteman,dilanjutkan dengan Ian bergaul juga dengan suami Nadya, hingga akhirnya kami para istri disatukan dalam satu proyek pekerjaan. Lucu juga kalau dipikir-pikir, karena kami seharusnya sudah berteman sangat lama, namun baru dekat sekarang.

Di ANTM, Nadya bisa dibilang beruntung memiliki saya sebagai partner kerja. Nadya yang cukup tertekan dan stress setiap akan menghadapi eliminasi, bisa sedikit terhibur dengan kehadiran saya. I’m so animated dan itu menjadi pemecah suasana tegang yang ampuh. Bahkan, sikap saya yang tak bisa diam ini kadang dinilai terlalu berlebihan menurut Nadya dan saya ditegur olehnya seperti anak kecil dimarahi oleh seorang ibu hahaha... Terlepas dari pekerjaan kami, saya mengagumi Nadya. Dia adalah perempuan inspiratif yang punya banyak sekali hal baik untuk bisa ditiru dan dipelajari. Contohnya soal gaya hidup ramah lingkungan. Saya memang tertarik dan di beberapa hal mengamalkan gaya hidup sehari-hari yang eco friendly. Namun bila dibandingkan dengannya, saya pasti belum ada apa-apanya. Gaya hidup sehatnya adalah yang ingin saya ikuti karena saya mau berambisi untuk mendapatkan kulit glowing seperti dirinya.

Thank you so much to Debenhams for the opportunity.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Pilihan