'BANGKITNYA SUSTER GEPENG' Menuntut Balas Penyiksaan Tentara Jepang

KAPANLAGI.COM - K2K Production siap merilis film Bangkitnya Suster Gepeng pada 11 Oktober 2012 mendatang. Film horor ini berdasar cerita yang pernah populer di Surabaya dengan bumbu dramatisasi. Selain itu, adegan seksi seperti biasanya, tidak pernah absen dari film-film produksi KK Dheeraj.

"Kisahnya mengangkat cerita sosok gepeng yang misterius. Ada hantu Mister Gepeng dan Suster Gepeng yang keduanya mati terjepit lift. Keduanya berusaha menuntut balas agar kematiannya tidak sia-sia," ujar Dheraaj saat dihubungi KapanLagi.com, Kamis (27/9).

Dibintangi oleh Aelke Mariska, Ozy Syahputra dan Baby Margaretha, Dheraaj mengungkapkan film ini akan memberikan tontonan yang menegangkan dan berbumbu humor. Kisahnya set back kehidupan di masa penjajahan Jepang.

"Kita restorasi sejarah juga. Karena settingnya ada yang saat penjajahan Jepang. Larasati, seorang suster terlibat dengan gerakan pemuda untuk mempersiapkan proklamasi. Tentara Jepang mendengar gerakan itu dan melakukan operasi untuk mencegah terjadinya proklamasi. Larasati menjadi target pengejaran tentara Jepang, tertangkap dan mati terjepit," katanya.

Adalah Keiko Larasati Hirosuke, cewek blasteran Jepang- Indonesia menjadi awal kisah film ini. Kakek Keiko dulu adalah seorang serdadu Jepang yang ditugaskan di Indonesia.

Suatu malam, sepulang clubbing bersama pacar dan teman- temannya, Keiko mendapatkan teror yang menyeramkan. Ada sebuah siaran aneh di radio, seperti siaran zaman perang kemerdekaan. Suara perempuan itu menyebut-nyebut tentang hutang nyawa yang harus dibayar, dalam bahasa Jepang.

Sejak teror malam itu, Keiko mengalami teror-teror lain di antaranya muncul suster gepeng yang bersimbah darah. Tidak hanya itu, suster gepeng itu juga membantai orang di sekitar Keiko. Suster itu menuntut sesuatu yang tak dimengerti oleh Keiko.

Sampai akhirnya dia menelpon Sato Hirosuke, kakeknya yang kini tinggal di Jepang. Terkuaklah sebuah cerita di masa lalu yang berakhir tragis. Kisah cinta antara Sato Hirosauke muda dengan seorang suster Indonesia, Larasati. (kpl/uji/dar)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Terkini