Artis-artis yang Memilih Kerja Kantoran

Oleh: Marmi Panti Hidayah/Iwan S.

Banyak artis Indonesia yang sudah mapan di dunia hiburan, tapi memilih bekerja di kantor entah menjadi pegawai, membuka usaha, atau terjun ke dunia politik. Apa alasannya?

Sebut saja Sophia Latjuba yang memilih menjadi instruktur yoga setelah sempat bekerja pada konsultan hukum Hotman Paris Hutapea. Lalu ada Djodi ‘Superbejo’, Dewi Sandra yang pernah kerja di perusahaan penyelenggara kegiatan (Event Organizer), Gusti Randa yang menjadi pengacara dan memimpin Badan Futsal Nasional (BFN), atau Farhan yang memilih berkantor di Delta FM dan PT Persib.

Begitu pula dengan Edwin Manangsang yang memilih jadi pegawai di Departemen Keuangan dan Acha Septriasa yang bekerja di perusahaan minyak Malaysia.

Padahal, seperti diakui Rieke Diah Pitaloka, tidak mudah meniti karir di dunia artis. Rieke yang saat ini berkantor di Gedung DPR mengawali keartisannya sejak masih duduk di kelas 2 SMP. Ia benar-benar merintisnya dari nol. Rieke memulai kariernya lewat peran-peran figuran, hingga akhirnya namanya dikenal publik. Berkat perannya di sinetron ‘Bajaj Bajuri’ namanya makin meroket, lalu dipercaya membawakan acara ‘Good Morning’ di TransTV.

Di usia 35 tahun, Rieke malah memantapkan langkahnya di dunia politik. Saat mengundurkan diri dari program ‘Good Morning’ yang mendapat rating tinggi, produser seolah tak yakin. Sang produser bertanya, ”Betul kamu akan meninggalkan zona nyaman ini?”. Pertanyaan itu disampaikan berkali-kali. Tapi Rieke mantap meninggalkan program yang dipandunya.

Banting stir di dunia politik, praktis membuatnya terjebak dalam rutinitas kantor seperti harus mengikuti rapat-rapat di gedung dewan. Mengapa Rieke memilih bidang politik? “Ketika saya memutuskan memasuki dunia politik kemudian jadi wakil rakyat, diri dan waktu yang saya miliki sepenuhnya untuk mengurusi persoalan rakyat,” tutur Rieke.

Beda dengan ketika menjadi artis, ia hanya memikirkan bagaimana dapur sendiri harus ‘ngebul’. Kebetulan Rieke bertugas di komisi IX DPR-RI yang mengurusi masalah ketenagakerjaan dan kesehatan. “Sebenarnya pekerjaan ini lebih sulit, tapi saya kira sudah menjadi panggilan hidup. Saya mencintai dunia politik dan menikmati pekerjaan ini,” urainya.

Tapi Rieke enggan dibilang meninggalkan dunia seni. “Saya tidak pernah meninggalkan dunia seni. Bagi saya, seni dan politik adalah dua sisi mata uang yang tidak mungkin dipisahkan,” ujarnya.

Seni butuh politik, supaya dalam berkesenian seseorang tidak hanya bertujuan mencari uang. Menurutnya setiap pekerja seni harus menyadari produk keseniannya akan dikonsumsi orang banyak. “Silakan Anda lihat proses rekam jejak saya di dunia seni. Saya tidak pernah sekalipun sembarangan menerima semua peran yang ditawarkan,” katanya.

Sebalikya, politik butuh seni supaya kebijakan politiknya tidak kasar, memiliki empati pada rakyat, serta melakukan pekerjaan dengan penuh penghayatan. Seni juga butuh politik agar maju.

“Saya memang memilih meninggalkan dunia entertainment, tapi tidak untuk meninggalkan dunia seni. Seni sudah melekat dan mendarah daging. Malahan sekarang saya berusaha memadukan kesenian dengan dunia politik saya,” tandas pemeran Oneng dalam sinetron ‘Bajaj Bajuri’ ini.

Ia selalu serius dalam menjalankan pekerjaannya. Dulu di sinetron ‘Bajaj Bajuri’, ia bisa bertahan sampai lima tahun. Saat itu, lanjut Rieke, banyak tawaran datang tapi ia tak mengambil kesempatan tersebut. “Saya ingin melakukan yang terbaik. Meski hanya satu judul sinetron, tapi matang dan berguna bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi bagi orang lain,” kata wanita kelahiran Garut, Jawa Barat ini.

Rieka berbeda dengan  dr Sonia Wibisono yang semula bercita-cita ingin jadi selebritas. Gagal menjadi pembaca berita pada sebuah stasiun televisi, dia fokus pada aktivitas kedokterannya. Sampai akhirnya menjadi pembawa acara ‘Dokter TV’ di Antv.

Selanjutnya, tawaran untuk dokter dari Universitas Indonesia ini berhamburan, termasuk untuk bermain sinetron, yang ditolak. Sonia pun dikenal sebagai bintang iklan maupun presenter. Kendati demikian, bekerja kantoran di dunia kesehatan tetap menjadi pilihan utamanya. Alasannya sederhana.

“Belajar dari cara papa dan mama yang begitu besar melimpahkan kasih sayang pada anak-anaknya, maka saya pun ingin menjadi ibu yang penuh perhatian pada anak-anak saya,” tuturnya.

Dengan berpraktik, ia tidak terlalu lama meninggalkan suami dan anak-anak demi karirnya. Namun sesekali ia masih menjadi pembawa acara kesehatan. Ia mengaku semangat melakukan itu karena sifatnya mengedukasi masyarakat.

“Masyarakat harus diedukasi agar mereka tahu bagaimana cara menjaga kesehatan. Sebab, pencegahan penyakit lebih baik ketimbang harus mengobati,” ujar dr Sonia yang merasa menikmati menjalankan dua profesi sekaligus: dokter dan presenter.



BACA JUGA:

Donita tak mau kerja kantoran

Steve Emmanuel vakum demi kerja kantoran
Acha Septriasa kerja kantoran, karyawan heboh
Pasca menikah, Anang mau kerja kantoran
Sahrul Gunawan bosan kerja kantoran

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Berita Terkini