Mengintip Proses Rekayasa Bintang K-pop

Mr Idol - Credit Jive! Entertainment (Blitzmegaplex)

"Mr. Idol" beredar di Korea pada bulan Oktober, jadi terbilang cukup cepat masuk ke bioskop di Indonesia. Maklum, demam k-pop mulai mendunia. Begitu pula dinamika kehidupan di belakang industri ini. Menarik diangkat jadi satu cerita film.

Mr. Idol dibintangi oleh Ji Hyunwoo, Park Hyejin, Kim Suroo dan Lim Wonhee. Dan, dikisahkan sebagai salah satu anggota boyband — bukan secara kebetulan dipilih — mantan anggota boyband 2PM, Jay Park.

Ceritanya diawali dengan Jihoo, vokalis boyband Mr. Children, yang bunuh diri setelah ketahuan berpacaran dengan salah satu penyanyi wanita dalam satu agensi. Ok Guju sebagai produser merasa bersalah dan memutuskan mengasingkan diri ke luar negeri. Mr. Children pun bubar.

Tiga tahun kemudian, Guju kembali dan mengumpulkan anggota Mr. Children. Ia berhasil menemukan pengganti Jihoo. Namanya Eugene, mantan Star Music yang dipecat karena musiknya yang berkonsep band dianggap tidak sesuai selera pasar.

Ok Guju ingin mengorbitkan kembali Mr. Children. Setelah menerima gemblengan keras bak pelatihan atlet nasional, Eugene, Jio, Hyunnie dan Ricky berhasil tampil di acara musik televisi dan melebihi kepopuleran Wonder Boys, boyband andalan Star Music. Hal ini membuat bos agensi Star Music berusaha menjatuhkan kepopuleran Mr. Children sekaligus menjatuhkan Guju.

Tema persaingan sudah sering diangkat sebagai cerita film. Namun, yang membuat "Mr. Idol" menarik adalah seluk-beluk dunia k-pop yang belum banyak diketahui umum. Banyak borok di belakang bisnis ini yang coba dikuak.

Misalnya, soal ketentuan tidak boleh berpacaran selama masih terikat kontrak. Poin seperti ini wajib dimasukkan dalam kontrak boyband.

Larangan pacaran ini mengingatkan saya pada permohonan Dara 2NE1 kepada bos YG Ent untuk mengurangi waktu larangan pacaran dari lima tahun menjadi tiga tahun dalam talk show Win Win, mengingat umurnya yang sudah hampir mencapai 30.

Atau penyitaan telepon seluler selama pelatihan (generasi pertama pelaku k-pop bahkan tidak pernah boleh memiliki ponsel). Atau penggeblengan fisik gila-gilaan para anggota Mr. Children yang seolah memberi penjelasan para anggota boyband ini memiliki badan atletis dan memiliki badan lentur.

Begitu pula dengan pemilihan nama manajemen agensi. Bukan kebetulan diberi nama Star Music, karena ketika disingkat menjadi SM dan mengingatkan pada raksasa manajemen artis korea, SM, pemilik artis Suju, Shinee, f(x), dan Girl's Generation.

Namun, "Mr. Idol" bukanlah film yang secara serius menyentil kelemahan-kelemahan industri k-pop. Penyelesaian konflik pun masih menggunakan formula melodrama korea yang memang membuat kecanduan.

Penggunaan aktor dan aktris yang bisa dibilang pemain watak, baik itu pemeran utama ataupun pendukung membuat Mr. Idol sangat menghibur. Ji Hyunwoo secara mengejutkan ternyata memiliki suara yang tak kalah bagusnya dengan penyanyi karena sebelumnya ia lebih dikenal sebagai aktor.

Satu hal yang agak mengganggu justru penempatan karakter beberapa pelaku yang terasa sekali hanya tempelan. Jay Park, misalnya. Ia tidak diberi dialog banyak dan karakternya pun terasa hanya satu dimensi, sebagai salah satu anggota Mr. Children. Konflik yang diberikan tidak cukup kuat dan menarik. Karakternya itu malah membuat ia tidak bisa berakting.

Begitu juga, empat anggota U-Kiss (Kiseop, Dongho, Hoon dan Seohyun) sebagai Wonder Boys, boyband baru andalan Star Music yang diperlihat tidak memiliki disiplin dan sempat berkelahi dengan Mr. Children, agak mengganggu. Walau hanya tampil sebentar, keonaran yang dilakukan Wonder Boys seperti anak-anak U-Kiss yang melakukannya.

Akan lebih menyenangkan jika pemeran Wonder Boys ini dipilih sebagai aktor, bukan salah satu boyband k-pop yang sebenarnya.

Berita Terkini