Merayakan Piano

Piano pasti bukan yang terbayang di kepala ketika kita bicara tentang band rock’n’roll.

Meski berperan pada masa awal lahirnya musik itu pada 1950-an, piano — yang dominan dalam lagu “Tutti Frutti” atau “Good Golly Miss Molly” — sedikit sekali tercatat dalam sejarah sebagai pusat aksi dalam rock’n’roll sesudah periode itu. Perannya digantikan gitar.

Ini terjadi sejak teknologi memungkinkan gitar diamplifikasi sedemikian rupa sehingga bukan saja bisa dimainkan dengan volume lebih kencang, melainkan juga melahirkan aneka manipulasi bebunyian.

Bukan hanya itu. Melalui Chuck Berry, misalnya, kita bisa menyaksikan betapa dengan gitar orang bisa beraksi panggung dengan memikat. Sulit membayangkan band rock’n’roll (atau apa pun turunannya) hanya diisi orang-orang yang diam dan sibuk dengan instrumen masing-masing, tanpa aksi panggung apa pun. Apalagi berjingkrakan dan berjumpalitan.

Perkecualian memang ada. Tapi bila disebut gitar, pastilah terbayang Jimi Hendrix, Jimi Page, Slash, Steve Vai.... daftar bisa sangat panjang.

Tak persis begitu, sebenarnya. Ingat Elton John? Musisi Inggris bernama asli Reginald Kenneth Dwight ini bukan hanya penulis lagu dan penyanyi tapi juga pemain piano jempolan. Dengan pianonya, atau tepatnya lagu yang dia mainkan dengan piano sebagai instrumen dominan, Elton membawa rock’n’roll ke tataran lebih tinggi.

Elton merupakan ikon penting dan, karenanya, wajar jika dia menjadi sumber ilham.

Salah satu musisi yang kian yakin dengan piano berkat Elton adalah Luky Annash. Musisi yang lahir di Jakarta, 23 tahun lalu, ini pertama kali mengenal Elton berkat ayahnya, yang suatu hari memberinya CD album “Goodbye Yellow Brick Road”. Dirilis pada 1973, album ini luas dipandang sebagai karya terbaik Elton dan yang tercatat paling laku.

Luky, yang mulai belajar piano pada usia 12, tak berhenti pada Elton. Dia juga mengidolakan dan menyerap pula kharisma dan musik Tori Amos, yang mulai dikenalnya dari soundtrack film “Great Expectations” (1998).

“Cara dia [Tori] bermain piano dan cara berpikirnya sebagai musisi tak kalah agresif dengan band seperti Motorhead atau penyanyi Elvis Presley,” katanya.

Bagi mereka akrab dengan periode 1970-an, Tori boleh dibilang merupakan jelmaan Kate Bush pada 1990-an. Perempuan yang lahir di Newton, North Carolina, Amerika Serikat ini menulis sendiri lagu-lagunya dan memilih piano sebagai instrumen utama.

Dan Tori memainkan pianonya dengan sangat ekspresif, seperti Jimi Hendrix memainkan gitar. Ia termasuk di antara sedikit musisi (khususnya lingkup rock alternatif) yang percaya diri berkarier dengan piano.

Dalam lingkup yang lebih kecil, itulah pula yang dilakukan Luky di sini. Dia menjadi satu-satunya penyanyi-penulis lagu pria yang sekaligus bermain piano. Musiknya bicara jujur mengenai apa saja yang bisa diamati dalam kehidupan sehari-hari (tak hanya soal asmara).

Kata jujur ini penting. Bukan saja di situlah bertumpu apa yang dikemukakan, misalnya, oleh saksofonis Charlie Parker sebagai prasyarat untuk menghasilkan musik yang bagus, bahwa “musik adalah pengalamanmu, pikiranmu, kebijaksanaanmu”. Lebih dari itu, dengan kejujuranlah kebebasan kreatif bisa dijalankan.

Melalui “180o”, album debutnya yang dirilis pada April lalu, Luky menunjukkan betapa piano selama ini terlalu disalahpahami, dianggap semata sebagai instrumen yang hanya bisa dimainkan dengan manis dan tertib di lounge atau panggung konser musik klasik.

Luky membongkar kesan konservatif itu. Dengan piano, dia meramu musik yang sekaligus mengekspose melankolia dan perasaan geram, dengan bumbu sedikit humor di sana-sini.

Sadar atau tidak, Luky, seperti Elton John, Billy Joel, Kate Bush, juga Tori Amos, sesungguhnya sedang merayakan piano dan banyak kemungkinan yang bisa diwujudkan dengannya dalam musik rock.

Di lanskap musik kita, eksplorasi semacam inilah yang sesungguhnya memang dibutuhkan. Semakin banyak, semakin baik.

Berita Pilihan