Kenangan Musik 20 Tahun Lalu

Dua puluh tahun lalu adalah tahun menarik bagi musik. Tahun 1992 adalah awal era ’90-an yang menjadi tonggak genre musik baru — yang banyak disebut rock alternatif atau grunge oleh media arus utama. Di era inilah rock cenderung menjadi lebih gelap, aneh, dalam, lusuh, dan berjuang menemukan eksistensinya di tengah genre musik lain.

Tahun-tahun awal ’90-an inilah yang memunculkan musik yang sebelumnya hanya ada di radio kampus di AS. Rock aneh ini pun membunuh rock yang lain — saat itu diwakili dengan penampilan celana spandex ketat dan rambut dengan hairspray. Tahun 1992 ditandai dengan album rock “Nevermind” (dirilis pada akhir 1991) yang “membunuh” sang raja pop Michael Jackson dari daftar album terpopuler.

Namun tentu saja, pop terus (dan akan) bertahan dengan memunculkan kejutan. Berikut ini kenangan yang digali kembali dari 20 tahun lalu, siapa tahu ada yang menjadi favorit dan referensi Anda:

Whitney Houston, “I Will Always Love You”
Tonton ulang “The Bodyguard”, film pertama Whitney yang membawakan ulang lagu lawas milik Dolly Parton ini. Diluncurkan dalam album soundtrack “The Bodyguard”, single ini meraup sukses besar dan masuk di daftar Billboard Greatest Songs of All Time. Pada perhelatan Grammy Awards baru-baru ini, “I Will Always Love You” dibawakan oleh Jennifer Hudson untuk mengenang Whitney yang meninggal dunia sehari sebelumnya.

Frekuensi Radio Bagian Kiri
Rock alternatif menunjukkan taringnya saat beberapa album muncul berturutan pada tahun 1992. Walau para artis yang menelurkan karya tak mau dilabeli genre tertentu, merekalah pionir dan penghuni frekuensi radio sebelah kiri. Di AS, rock alternatif dan aneh macam ini umumnya diputar di frekwensi bagian kiri radio — yang mayoritas dihuni radio kampus.

Nirvana meluncurkan album “Incesticide”, Alice In Chains menyusul dengan “Dirt”, Sonic Youth tak mau kalah dengan “Dirty”, REM menelurkan “Automatic for the People”, dan Faith No More merilis “Angel Dust”. Sebuah album pengiring film “Singles” juga menjadi kompilasi penting karena menggambarkan hampir seluruh artis dan grup yang mewakili era rock alternatif ’90-an (terutama di kota Seattle).

Dream Theater, “Images And Words”
Punggawa hair metal macam Guns n’ Roses atau Motley Crue dipaksa mundur teratur pada awal tahun 1992. Namun rock progresif terus jalan. “Images And Words” adalah album kedua dari band yang sedang naik daun saat itu, Dream Theater. Menyajikan suguhan rock rumit nan penuh teknik, nomor-nomor macam “Another Day” atau “Pull Me Under” terus lengket di telinga. Oh, dan mereka akan mampir ke Indonesia pada bulan April nanti.

Morrissey, “Your Arsenal”
Alasan saya memasukkan dua band terakhir ini sebenarnya karena terkait rencana konser mereka ke Indonesia. Album “Your Arsenal” yang diluncurkan tahun 1992 berisi lagu-lagu klasik seperti “We Hate It When Our Friends Become Successful” dan “You’re the One for Me, Fatty”. Steven Patrick Morrissey, dkk akan menggelar konsernya di Indonesia pada 10 Mei 2012. Mantap untuk mengenang “Your Arsenal” bukan?

The Cure, “Friday I’m In Love”
Single legendaris milik The Cure, “Friday I'm In Love” diluncurkan pada 11 Mei 1992 (walaupun albumnya “Wish” telah keluar satu bulan sebelumnya).  Pada peringatan ke-20 tahun ini, ternyata bertepatan dengan hari Jumat — persis seperti lagunya.

Debut: Rage Against The Machine dan Dewa 19
“Rage Against The Machine” adalah album yang terlambat saya dengarkan (saya menyimak album ini hampir 10 tahun setelah diluncurkan pada November 1992). Album ini adalah album pertama Zack de la Rocha, dkk yang langsung melejitkan band Rage Against The Machine.

Sementara itu, Indonesia masih terpengaruh glamrock dan rock progresif pada tahun 1992. Pengaruh tersebut terasa pada album “Dewa 19” yang direspon cukup baik oleh penggemar musik Indonesia. Nomor-nomor manis seperti “Kangen” dan “Bayang-Bayang” adalah hasil karya Ahmad Dhani yang nikmat didengarkan kembali. Setelah album ini, Dewa 19 terus berkembang hingga menjadi salah satu band terkemuka di negeri ini.

Eric Clapton, “Tears In Heaven”
Tahun 1992 adalah saat film “Rush” diluncurkan, lengkap dengan lagu pengiringnya, “Tears In Heaven”. Eric Clapton menyertakan lagu ini di dalam album “Unplugged” yang juga dirilis tahun yang sama. “Tears In Heaven” ditulis untuk mengenang putranya, Conor, yang baru saja meninggal pada umur 4. Eric akhirnya tidak memainkan lagu ini lagi sejak tahun 2004 karena merasa sudah melupakan dukanya. Lagu ini sangat populer dan terus diputar di berbagai media hingga sekarang.

Jordy – “Dur Dur d'être Bébé!”
“Memang susah jadi bayi!” kata si bayi Jordy (kini 24 tahun) dalam sebuah lagu berbahasa Perancis. Videonya yang lucu diputar hampir tiada henti di televisi pada 1992 dan setelahnya, sehingga lagu ini jadi nomor satu di Perancis. Indonesia juga tak luput dari virus bayi Jordy yang lucu. Masih ingat kan lagu dan video klipnya?

U2, “One”
Saya mendengarkan “One” melalui radio sekitar 1992-1993 dan tak mengetahui bahwa pada saat itu U2 telah mencapai puncak kariernya. Melalui album legendaris “Achtung Baby” (dirilis 1991), band asal Irlandia ini menangguk nama besar di seluruh dunia. “One” adalah lagu hebat yang bertema cinta universal dan mengambil inspirasi dari reunifikasi Jerman.

Proses pembuatan “One” diulas khusus pada film dokumenter U2 “From the Sky Down” yang diluncurkan tahun lalu. Lagu ini terus dikenang hingga sekarang.



LIHAT JUGA:

GALERI FOTO: Masa kejayaan Nirvana
Mengenang 45 tahun kelahiran Kurt Cobain
Dari terhebat hingga terpopuler: lagu-lagu cinta terbaik
Raja-raja musik akustik masa kini
Musik digital, penyelamat atau penghancur industri musik?
10 lagu cinta paling romantis
Kilas balik musik Indonesia di 2011

Berita Pilihan