Mohammed Ikhwan
  • “Berpacu dalam… melodi!”
     
    Beberapa pembaca mungkin masih akrab dengan seruan khas Koes Hendratmo dalam kuis “Berpacu Dalam Melodi” di TVRI  yang pernah naik daun di era ’90-an. Kuis bertema musik ini punya peraturan sederhana. Peserta menebak pertanyaan berkisar lagu. Ada yang menebak nada, atau sejarah seputar lagu tersebut. Semakin cepat dan semakin banyak poin, Anda menang.
     
    Nah, kini muncul kuis serupa. Namun lain dulu, lain sekarang: kuis musik tak lagi hanya kita tonton secara pasif di televisi. Berkat internet dan media sosial, kita bisa langsung menjadi peserta di game Songpop.
     
    Tangkapan layar aplikasi permainan SongpopSongpop menjelma menjadi permainan yang sederhana namun dengan eksekusi yang hebat. Paduan keduanya membuat 4,2 juta orang keranjingan. Tebak-tebakan lagu tak lagi membosankan. Jika Anda seorang pecinta musik, bermain Songpop di waktu senggang bisa menjadi pilihan.
     
    Saat mulai bermain, Anda akan disuguhi dengan lima potongan lagu dari playlist tertentu (bisa jadi hit terkini, rock klasik, atau lagu

    Selengkapnya »dari Di Balik Keranjingan Songpop: Pengetahuan dan Kondisi Industri Musik
  • Menjelang Lebaran, mari kita dengarkan sebuah lagu baru dari Respito. Judulnya diambil dari bahasa Sunda, “Hampura”, yang artinya memohon maaf.

    Lama tak muncul, Respito terbit kembali dengan sesuatu yang baru. Kuartet Pheps (vokal, gitar), Daff (gitar), Chandra (bas), dan Ricky (drum) meluncurkan “Hampura”. Single ini berjarak cukup lama dari rilisan album perdana mereka, “Jalan Menuju Surga” yang terbit pada tahun 2009.

    Jika sebelumnya Respito selalu mengguncang panggung dengan distorsi yang meraung dan irama kencang di sana-sini, maka single barunya ini sangat bertolak belakang (silakan simak “Hampura di sini).

    Bandingkan dengan nada-nada ceria pada hits lama mereka, “Pretty Damn Girl” misalnya. Atau dengan semburan berapi-api pada nomor “A.D.I.K.S.I.” Single “Hampura” bagaikan sebuah titik balik — menandakan keempat anak muda ini sekarang beranjak tumbuh dewasa. Mereka haus akan eksplorasi musik dan asupan makna.

    Nuansa bunyi yang dahulu kental dengan corak ’90-an, saat ini mengalami

    Selengkapnya »dari Hampura, Lagu Lebaran yang ‘Ngerock’
  • Upacara penutupan Olimpiade London 2012 berlangsung meriah. Walau panitia menyiapkan konsep simfoni musik Britania, beberapa artis legendaris asal negeri Union Jack malah absen. Padahal penampilan mereka dinanti-nanti. Siapa saja mereka?

    The Rolling Stones
    Kumpulan legendaris ini tak eksis di perhelatan Olimpiade London 2012. Bahkan referensi musik untuk Stones nihil. Bandingkan dengan banyaknya referensi musik untuk "rival" mereka, The Beatles. Mick Jagger menyatakan band belum siap untuk menggoyang panggung pada kesempatan ini.

    AdeleAdele
    Absennya Adele menjadi pertanyaan besar. Panitia sendiri menyatakan bahwa mereka telah mati-matian mencoba mendatangkan Adele untuk mendukung acara penutupan. Namun hingga detik akhir, tak ada tanda-tanda pemilik suara emas ini hadir. Padahal penutupan Olimpiade bisa jadi sangat indah dengan tingkahan vokalnya.

    Coldplay
    Satu lagi kumpulan termasyhur asal Britania Raya yang absen. Jadwal di London ternyata berbenturan dengan tanggal tur mereka di Amerika Utara.

    Selengkapnya »dari Artis yang Absen di Upacara Penutupan Olimpiade
  • GotyeMedia sosial menjadi kanal baru bagi musisi, penggemar dan pemirsa di seluruh dunia. Salah satu yang menggunakan cara ini dengan hebat adalah Gotye.

    Musisi yang bernama asli Wouter De Backer ini mencetak pencapaian luar biasa lewat YouTube. Video lagu andalannya, "Somebody That I Used to Know" telah dilihat lebih dari 299 juta kali. Video tersebut kini masuk dalam 30 video yang paling sering diputar sepanjang waktu di YouTube.

    Video singkat itu memang cukup menarik. Gotye berduet bersama Kimbra, biduanita asal Selandia Baru. Mereka sepenuh hati menuangkan ide putus cinta dan hubungan yang telah usai: sang mantan kekasih sekarang hanyalah orang lain — cuma seseorang yang pernah dikenal. Sejumput seni rupa dan warna-warni sederhana meningkahi video ini.

    Mungkin kesederhanaan tersebutlah yang membuat pemirsa kepincut. Selain itu, tembang "Somebody That I Used to Know" memang akrab untuk telinga. Suara Gotye yang mirip-mirip Sting atau Peter Gabriel menjadi nilai plus.

    Kembali ke YouTube.

    Selengkapnya »dari Berbalas YouTube Ala Gotye
  • Bulan suci Ramadan, seperti biasa di Indonesia, berarti bulannya album religius Islam. Tren album religius tak berhenti menggelontor pasar, terutama sejak awal milenium. Artis pun berlomba-lomba meluncurkan karya musik bernafas agama — mulai dari genre kasidah, pop, hingga rock.

    Ada syair tenang nan menghanyutkan di tiap bait. Ada irama mendayu-dayu mengajak kita untuk tepekur. Ada nada rancak yang selalu mengingatkan pada momen khusus puasa dan Hari Raya.

    Namun ada satu hal lain di balik album religius — satu hal yang jarang disoroti: platinum.

    Platinum adalah sebuah sertifikasi penghargaan penjualan rekaman musik. Sistem ini hampir ada di seluruh dunia, yang menandakan suatu rekaman musik telah mencapai penjualan pada angka tertentu. Di Indonesia saat ini, kategori platinum setara dengan penjualan 75 ribu keping album (dalam negeri) dan 50 ribu (impor).

    Platinum yang didapat album religius ada beberapa (jika tak bisa dibilang banyak). Dua artis malah mencatat rekor penjualan luar biasa.

    Selengkapnya »dari Mereka yang Mendapat Platinum dari Album Religius
  • Negeri Britania boleh bangga. Perhelatan Olimpiade Musim Panas 2012 sejauh ini berjalan lancar. Mereka berhasil menjadi tuan rumah yang baik.

    Lebih jauh lagi, Inggris bahkan bisa berbesar kepala dengan deretan acara pembukaan dan penutupan Olimpiade London. Konsep  dan musisi pendukung perhelatan akbar ini sungguh hebat. Patut diacungi jempol.

    Khalayak bernyanyi bareng dengan Paul McCartney di upacara pembukaan. Susunan musisi Britania yang ikut serta terpilih dengan apik. Tak hanya legenda macam Sir Paul, bakat baru dari empat bangsa pembentuk Inggris Raya sempat urun suara. Deretan sejarah musik Inggris dalam konsep "Isle of Wonders" bermakna sangat dalam--walau beberapa orang menilai penyajiannya cukup sederhana.

    Penonton dari berbagai negara dan pemirsa dari seluruh dunia menantikan acara penutupan yang lebih hebat lagi. Dan Inggris telah bersiap menyajikannya.

    Seluruh dunia bisa menyaksikan upacara penutupan Olimpiade London 2012 dini hari nanti (13 Agustus). Sekitar 4.000-an penampil

    Selengkapnya »dari Nasionalisme Britania pada Upacara Penutupan Olimpiade
  • Seorang DJ tampil di Santa Monica, California. (Foto: John Sciulli/Getty Images)Saat ini, menjadi seorang DJ bisa jadi belum terpikirkan oleh kita yang awam. Namun tak jauh di masa depan, kesempatan ini terbuka lebar untuk semua orang.

    DJ atau disc jockey, dirunut dari sejarahnya, adalah orang yang memilih, memilah dan memainkan musik bagi penikmatnya. Zaman dulu, cakram musik belum berwujud seperti format digital sekarang. Akibatnya, para DJ harus bersusah-payah mengganti piringan hitam untuk berganti artis atau album.

    Para DJ yang umum dikenal biasanya beroperasi di kerumunan publik macam bar, diskotek atau kafe. Mereka antara lain Jimmy Savile asal Inggris, yang pertama kali menggunakan dua turntable dan mic untuk DJ. Lalu ada Regine di klub Whiskey a Go-Go Paris, dan DJ radio Alan Freed (AS).

    Dengan definisi memilih-memilah-memainkan musik, penyiar radio juga layak dikatakan sebagai DJ. Mereka melakukan kurasi dan bisa memperdengarkan musik yang dipilih untuk pendengar.

    DJ yang terkenal zaman dulu adalah mereka yang bisa mengantarkan lagu-lagu yahud dan memiliki

    Selengkapnya »dari Semua Orang Bisa Jadi DJ
  • Di balik kemeriahan upacara pembukaan Olimpiade London 2012, ada beberapa penampilan artis yang mencuri perhatian.

    Upacara pembukaan bertajuk "Isle of Wonder", yang dibesut oleh sutradara terkenal asal Inggris Danny Boyle, menghadirkan banyak referensi sastra maupun budaya pop Inggris. Bahkan sesi terakhir dari "Isle of Wonder" dirancang khusus untuk merayakan musik pop Inggris.

    Sesi ini juga dirancang menyesuaikan dengan tren komunikasi saat ini yang bisa dilakukan dengan instan via Internet.

    Mari kita lewatkan sejenak gelang-gelang raksasa lambang olimpiade yang memancarkan api di upacara pembukaan. Lupakan pula David Beckham mendayung perahu. Juga, mari kita lewatkan pula kedatangan Sang Ratu bersama James Bond. Mari kita fokus pada penampilan musisi pada acara megah di negeri britpop ini.

    Yang pertama adalah The Beatles. Tapi palsu.

    Ya, di acara pembukaan tadi malam mereka seakan hidup lagi. Namun ternyata, kedatangan mereka hanyalah bagian dari trik untuk pemanasan di perhelatan ini.

    Selengkapnya »dari Bernyanyi Bareng di Pembukaan Olimpiade
  •  

    “Kalah bukanlah sebuah pilihan” mungkin adalah kutipan yang menjiwai dirilisnya album “Teori Konspirasi, yang ditelurkan oleh tokoh terkemuka dalam dunia musik alternatif. Vokalisnya adalah Chandra “Che” Johan, vokalis band Cupumanik.

    Romi Sophiaan, yang wara-wiri di banyak band alternatif ’90-an, memegang bass. Edwin Syarif (terkenal sebagai gitaris band Cokelat) menyayat gitar. Sementara itu, Kirana Hamonangan — lebih beken dengan nama panggung Marcell — menggebuk drum.

    Edwin dan Marcell adalah aktor intelektual di balik persekongkolan kuartet super yang diberi nama Konspirasi.

    Mereka menolak kalah dari rotasi musik arus utama saat ini yang cenderung seragam. Mereka juga menolak kalah dari pemeo “grunge is dead”. Genre alternatif ’90-an ini memang sedang digadang-gadang sedang bangkit dalam beberapa tahun belakangan — baik di luar maupun dalam negeri.

    “Konspirasi berawal dari keinginan gue untuk kembali membuat musik yang keras dengan meminimkan rem kemapanan,” kata Edwin Syarif.

    Selengkapnya »dari Supergrup Konspirasi Melawan Rotasi
  • Ini bisa jadi inspirasi bagi para band yang hendak menggelar konser tapi tak punya uang: mengapa tak mengumpulkan dana khalayak melalui internet?

    Navicula, sebuah band asal Bali, memiliki proyek konser kampanye keliling Kalimantan. Mereka ingin menyapa penggemar mereka di pulau terbesar ketiga di dunia ini — tapi dana konser keliling jelas pelik buat kantong manajer dan para personel. Ditambah lagi, tidak banyak sponsor yang mau mengongkosi mereka, mengingat band ini tidak sesuai “selera pasar”.

    Band para punggawa grunge Indonesia ini bisa dibilang memang punya substansi berbeda dari band lain. Mereka pernah membuat lagu berdurasi hampir empat menit berjudul “Orangutan”, yang bertujuan meningkatkan kesadaran orang-orang akan penyelamatan spesies yang makin langka itu.

    Mentok? Tidak.

    Jika kendala utama adalah dana, maka metode pencariannya yang harus disiasati. Mereka memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan buana internet saat ini, yakni melalui layanan pengumpulan dana khalayak

    Selengkapnya »dari Mengumpulkan Dana Khalayak untuk Menggelar Konser

Penomoran Halaman

(50 Artikel)