Stand-Up Comedy Indo: Komunitas Komedian Tunggal di Indonesia

Oleh Jonathan Rian Christandar

Komedi tunggal, atau biasa juga disebut stand-up comedy, sedang populer di Indonesia. Program televisi yang berhubungan dengan komedi tunggal mengudara 3-4 kali seminggu. Tetapi siapa sangka popularitas ini tercipta oleh sebuah “kecelakaan”?

Ryan Andriandhy, salah seorang pencetus komunitas komedian tunggal, berbagi cerita dengan Yahoo! Indonesia.

Bagaimana awal terbentuknya komunitas komedian tunggal di Indonesia?
Semuanya bermula dari adanya kompetisi stand-up comedy di Kompas TV. Waktu itu terpilih tiga wakil dari Jakarta: saya, Ernest [Prakasa] dan Asep [Suaji]. Nah, terus saya dan Ernest punya ide untuk berlatih sebelum kompetisi dimulai.

Akhirnya kami mulai mengajak orang buat datang dan nonton. Ternyata, Pandji [Pragiwaksono] mendengar rencana kami dan dia mau ikut. Eh, Raditya Dika juga mau ikut. Akhirnya acara yang awalnya hanya untuk latihan kami berdua, malah berubah menjadi pertunjukan beneran.

Malam itulah yang akhirnya kita sebut Stand Up Night #1, dan menjadi cikal-bakal terbentuknya komunitas Stand-Up Comedy Indo.

Apa perbedaan komedi tunggal dengan hiburan lainnya?
Komedi tunggal berawal dari sebuah sudut pandang, biasanya milik si komediannya. Bukan sekadar membawakan cerita lucu, namun lebih kepada keresahan pribadi si komedian dengan cara lucu dan menghibur. Tentu saja keresahan pribadi ini juga berasal dari hal umum yang dialami oleh banyak orang.

Komedian juga harus melakukan observasi, menentukan sikap, membawakan materi yang lucu dan tidak terpikirkan oleh orang lain, sehingga dapat menghibur penonton. Hebatnya komedi tunggal bisa jadi sarana untuk membahas atau menyampaikan hal yang nggak bisa disampaikan melalui media lainnya.

Misalnya, dalam salah satu penampilannya, Pandji bersuara soal pemikirannya dalam hal legalisasi ganja. Kalau tidak lewat komedi, bagaimana lagi cara menyampaikan pemikiran seperti itu dan bisa diterima oleh masyarakat umum? Gagasan yang sebenarnya lucu seperti itu hanya bisa diterima oleh masyarakat, jika disampaikan dan didengarkan sambil tertawa.

Sering kali komedian melontarkan lelucon sensitif. Bagaimana tanggapan Anda?
Menurut saya, semua hal sebenarnya bisa dikomedikan, namun kembali lagi ke tanggungjawab masing-masing komedian. Dan yang paling penting, selucu atau sesensitif apa pun lelucon yang kita lontarkan itu, semuanya harus merupakan fakta, bukan dikarang. Jadi kembali lagi, ini seperti mengungkapkan fakta atau kebenaran dengan cara yang lucu.

Satu hal lain yang berpengaruh terhadap sensitivitas lelucon adalah si komedian itu sendiri.

Misalkan Ernest, sebagai keturunan Cina ia merasa beberapa hal yang mungkin “mengganggu” dirinya tentang orang keturunan. Inilah yang menyebabkan ia sering mengangkat isu etnis Tionghoa dan segala hal yang meresahkan. Berhubung yang melontarkan lelucon adalah orang Tionghoa sendiri, tentu bagi pendengar tidak akan terdengar rasis. Dan orang bisa tertawa dengan mudah.

Akankah komedi tunggal bertahan ke depannya, atau hanya akan jadi tren sesaat?
Menurut saya ini adalah sebuah bentuk kelahiran komedi tunggal. Saya yakin kalau komedi tidak akan pernah mati, dan stand-up comedy bisa jadi sebuah alternatif di antara begitu banyak macam komedi. Kami ada di sini bukan untuk menggantikan jenis komedi lainnya, namun untuk menjadi pilihan baru yang juga bisa menghibur banyak orang. Jadi kami, komedian tunggal berharap semua orang akan tetap bisa menikmati ini sampai waktu-waktu ke depan.

Harapan Anda buat komedi tunggal Indonesia?
Harapan paling utamanya adalah komedi tunggal bisa meluas dan makin diterima oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan. Komedi tunggal diharapkan dapat menjadi alternatif hiburan baru. Memang disadur dari luar negeri namun disesuaikan dengan kultur kita.

Kami juga berharap, komunitas komedian tunggal bisa berkembang sampai ke daerah-daerah, seperti yang sudah terbentuk sekarang yaitu Stand-Up Indo Bandung, Pontianak, Solo, Jogja, dan lain-lain. Dan kami berharap mereka dapat menjaring para peminat komedian tunggal di pelosok Indonesia melalui Open Mic dan acara lainnya.

Berita Pilihan