Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik dari Masa SMA

Personel Sheila On 7 dari kiri ke kanan: Duta (vokal), Sakti (gitar), Anton (drum), Eross (gitar) dan Adam (bass). …Pada 6 Mei, band asal Yogyakarta, Sheila on 7 berulangtahun ke-17. Usia sakral bagi para remaja yang tengah tumbuh — yang kerap jadi penanda titik tertinggi periode keremajaan.

Dan bukan kebetulan, saya mengenal Sheila on 7 saat saya berusia tujuh belas. Tepatnya saat duduk di bangku kelas dua SMA.

Saya akan selalu menganggap Sheila on 7 sebagai pengisi soundtrack masa SMA saya. Walaupun di masa itu, saya banyak mendengarkan band-band britpop namun tidak ada lagu-lagu britpop yang dapat menyentuh hati seperti yang dilakukan oleh lagu-lagu Sheila on 7.

Saya dan banyak orang di Indonesia pada akhir ’90-an mengenal Sheila On 7 gara-gara serial Lupus Milenia yang dibintangi Irgi Ahmad Fahrezi. Lagu “Kita” digunakan sebagai lagu tema dari serial Lupus tersebut. Pada klip videonya juga, sejumlah pemeran Lupus turut tampil bersama Duta dkk.

Menggunakan single pertama dari album sebuah band baru untuk sebuah serial televisi adalah strategi pemasaran yang jitu. Nama band yang sebelumnya tidak dikenal masyarakat, seketika terkatrol dengan serial yang juga merupakan adaptasi dari seri buku populer.

Lagu “Kita” sendiri adalah lagu yang ramah di telinga. Tidak butuh waktu lama untuk saya dapat menyenandungkan melodi lagu ini. Bagaimanapun, walau telinga saya dapat menerima dengan mudah alunan melodi dari lagu “Kita” namun saya tidak langsung tergerak untuk membeli album pertama mereka itu.

Sampai akhirnya saya mendengar lagu Sheila on 7 selanjutnya pada suatu sore di rumah teman.

Saat itu teman saya sudah membeli kaset Sheila on 7.  Setelah side A sudah habis, maka ia membalik kaset untuk memutar side B.  Lagu pertama di side B ini yang langsung menarik perhatian saya. Judulnya “Dan”. Dan di hari itu juga, sepulangnya dari rumah teman saya, saya mampir ke toko kaset dekat rumah dan membeli kaset pertama Sheila on 7 yang sanggup membuat saya jatuh hati.

Dari pertama kali mendengar lagu “Dan”, saya yakin lagu ini akan menjadi single berikutnya. Dan ternyata dugaan saya terbukti benar.

Lagu “Dan” memiliki semua elemen lagu balada yang baik: melodi yang enak dan lirik cinta yang bisa diaplikasikan ke banyak kisah kasih manusia. “Dan” dibuka dengan irama drum yang sangat khas dari Anton yang dikawal ketat oleh permainan bas dari Adam dan lalu disempurnakan dengan suara cello yang menyayat.

Pada kelanjutannya, album Sheila on 7 ini kerap saya putar di mobil saat berangkat ke sekolah.  Setiap lagu yang ada dalam album tersebut, selalu mengingatkan saya pada setiap daerah yang saya lalui menuju sekolah.

Jika tahun kedua saya di SMA lekat dengan album debut Sheila on 7, pada tahun terakhir saya di bangku SMA, album kedua Sheila on 7 “Kisah Klasik untuk Masa Depan” menjadi soundtracknya.

Ada satu lagu dalam album tersebut yang selalu mengingatkan saya pada momen-momen terakhir saya di SMA, yaitu “Sebuah Kisah Klasik” yang liriknya bertemakan persahabatan. Dan kebetulan saya bersama teman-teman SMA menyanyikan lagu itu dengan lantang pada hari resmi terakhir saya berstatus siswa SMA.

Sungguh sebuah momen yang mengharukan, bernyanyi dengan iringan gitar akustik di kantin yang telah tutup bersama teman-teman yang telah mengisi hari-hari selama tiga tahun terakhir. Semua kisah masa SMA saya dan teman-teman seakan dirangkum dengan cermat pada setiap lirik dari lagu “Sebuah Kisah Klasik”.

Saya dan teman-teman SMA saat itu mungkin tidak menyadari sepenuhnya bahwa momen bernyanyi bersama lagu-lagu Sheila on 7 ini tidak akan pernah berulang kembali, seraya kita bernyanyi, “Bersenang-senanglah. Karena hari ini akan kita rindukan. Di hari nanti, sebuah kisah klasik untuk masa depan.


Berikut ini foto-foto artis lawas tahun 90-an:

Personel grup musik Sheila On 7 dari kiri ke kanan: Duta (vokal), Sakti (gitar), Anton (drum), Eross (gitar) dan Adam (bass).
1 / 20
TEMPO.CO | Foto oleh Bagus Indahono/TEMPO
Kam, 24 Mei 2012 18:00 WIB

Berita Pilihan