"La Tahzan": Mengangkat Kisah Cinta dan Fenomena Pindah Agama

Oleh Marmi Panti Hidayah

Danial RifkiTiga tahun silam, Danial Rifki meraih penghargaan dalam sebuah festival film internasional di Kyoto atas film pendek besutannya “Anak-Anak Lumpur”.

Selama 10 hari ia berada di sana, terpahat kesan mendalam tentang Jepang sebagai negara maju yang memiliki kultur ‘njawani’ dan juga menyimpan banyak keindahan. Wajar saja ketika itu ia berkeinginan, ”Suatu saat nanti saya ingin bikin film di Jepang”.

Film “La Tahzan” menjawab angan-angan alumnus Institut Kesenian Jakarta ini. Sekitar 80 persen syuting film dilakukan di Jepang, sehingga punya banyak waktu untuk mengeksplor keindahan negeri Oshin tersebut.

“La Tahzan” adalah film layar lebar pertama bagi Danial, namun bukan berarti sutradara kelahiran 3 Desember 1982 ini hanya coba-coba. Film pendek pertamanya berjudul “Anak-anak Lumpur” memenangkan penghargaan dari Kyoto International Student and Video Festival 2010. Film pendek karya berikutnya berjudul “Aku Sayang Markus” mendapat penghargaan FFI 2007. Ia juga menulis naskah untuk film “Tanah Surga....Katanya” yang mendapat pujian dari banyak kritikus film.

Banyak hal menarik dalam penggarapan film “La Tahzan”. Berikut wawancara Yahoo! Indonesia dengan Danial Rifki.

Film ini inisiatif siapa? Apakah Anda ditawari atau memang menawarkan diri?
Inisiatif dari saya. Pada 2010 ketika ada festival film Internasional di Jepang, saya bertemu komunitas orang Indonesia di sana. Mereka ada yang sekolah maupun bekerja dan banyak bercerita tentang kehidupannya. Bahkan, mereka telah menuliskan perjuangan hidupnya dalam buku “La Tahzan for Student”. Nah, itulah yang saya bawa pulang untuk oleh-oleh.

Setelah kita kembangkan jadi cerita. Lalu saya bertemu Falcon Pictures dan Mas Jujur Prananto (penulis skenario), hingga jadilah cerita dalam film. Jadi secara garis besar kita terinspirasi kisah perjuangan hidup warga Indonesia di sana, dan kita buat fiksinya.

Apa kisah yang menjadi daya tarik di film "La Tahzan"?
Kisah cintanya sangat menarik. Banyak orang Indonesia yang saya temui telah menikah dengan orang Jepang. Mereka menikmati hidup baru di Jepang, sehingga begitu ketemu orang Indonesia lagi langsung bernostalgia. Sepertinya mereka sudah asing banget dengan Indonesia, meskipun logat bahasa Jawa-nya yang medok masih kental.

Itulah uniknya dan saya kasih bold. Lalu digali lagi, mengapa orang Indonesia akhirnya menikah dengan orang Jepang, padahal agama dan kultur berbeda?

Pesan apa yang ingin disampaikan dalam film "La Tahzan"?
Yang saya lihat, orang-orang yang tinggal di sana punya impian sehingga tinggal di Jepang. Mereka berkeyakinan, bila kita ingin hidup enak, berarti harus ke negara maju. Kesadaran itu sangat masif.

Ternyata tinggal di negara maju seperti Jepang tidak mudah. Mereka harus kerja keras dan ada masa jatuhnya. Meskipun menikah dengan orang Jepang, tidak semuanya bahagia. Ada juga yang gagal.

Artinya di manapun kita berada perlu perjuangan hidup. Tokoh-tokoh dalam film mengalami konflik itu. Mereka mendapati masalah bahwa kehidupan di Jepang tidak seindah apa yang dibayangkan saat di Tanah Air. Konfliknya sangat keras. Oleh karena itu muncullah semangat La Tahzan (Jangan Bersedih) sebab Tuhan selalu bersama kita. Pegangan itu membuat mereka survive.

Apakah “La Tahzan” film islami, mengingat judulnya berbahasa Arab?
Nilainya memang kita ambil dari Islam, La Tahzan. Tapi packaging atau targetnya lebih general dan universal. Itulah kenapa kita menampilkannya di Jepang, tokohnya juga tidak mengenakan jilbab. Selain itu, tidak ada hal-hal spesifik kecuali ada adegan shalat di mesjid. Jadi soul-nya islam, tapi aplikasinya umum.

Joe Taslim di film "La Tahzan".
Bukankah ada adegan pindah agama?

Itu realita yang bikin kita kaget saat di Jepang. Kalau ada orang Indonesia mau menikah lalu memberikan syarat harus satu agama, orang Jepang sangat mudah memutuskan pindah agama.

Kita sempat mengalami culture shock, ”Kok semudah itu pindah agama?”. Ternyata memang seluwes itu orang Jepang dalam beragama. Lahir secara Shinto, menikah secara Kristen, meninggal secara Budha.

Saya pernah berdiskusi soal agama dengan orang Jepang yang jadi guide di sana. Ternyata mereka terbuka menerima agama apapun.

Saya melihat ini tema menarik, bagaimana seseorang pindah agama dengan begitu mudah demi mengikuti kepercayaan kekasihnya. Apa yang dirasakan, itulah yang kita eksplorasi. Jadi kita gambarkan kultur dan kehidupan spiritual mereka.

Apa pertimbangan memilih Atiqah Hasiholan, Joe Taslim, dan Ario Bayu sebagai pemeran?
Mereka mendapatkan peran itu melalui proses kasting. Basic-nya memang tiga karakter: Viona, Yamada, dan Hasan. Yamada adalah orang Jepang berwajah ganteng. Oleh karena itu, kita pilih aktor yang bisa membuat orang “jatuh cinta” saat melihat.

Mengapa akhirnya memilih Joe Taslim sebagai pemeran Yamada, karena secara fisik memang menunjang. Lalu orang Jepang juga sopan-sopan. Yamada mencerminkan itu, dia ganteng, sopan, dan baik hati. Pas sekali dengan Joe Taslim. Secara fisik Joe keren, body bagus karena dia atlet, dan dia juga humble banget.

Selain itu, ada nilai plus, Joe punya pengalaman tinggal di Jepang. Jadi ketika belajar bahasa Jepang tidak terlalu susah, tinggal mengontrol dialog.

Bagaimana dengan kasting Ario Bayu serta Atiqah?
Hasan adalah sosok pekerja Indonesia yang digambarkan punya beban hidup keluarga. Kita butuh orang ganteng tapi pembawaan murung. Dan itu tepat untuk Ario Bayu.

Atiqah Hasiholan mandiri, mapan, bisa membawa diri, tapi kalau ngomong terkesan manja. Sangat sesuai dengan tokoh Viona. Viona awalnya berani sendiri ke Jepang, tapi belakangan ia merasa galau dengan kehidupannya. Demikian pula ketika ia harus memilih di antara dua pilihan. Sangat tepat diperankan Atiqah.

Tiga pemeran utama film "La Tahzan": Joe Taslim, Atiqah Hasiholan, Ario Bayu. (Jonathan Rian C./Yahoo!)
Apa pengalaman berkesan bekerja sama dengan tiga bintang ini?
Mereka cerdas. Jika sekarang ada aktor-aktor generasi baru yang instan, hanya sekadar hafal naskah dan asal dialog, maka sangat berbeda dengan tiga pemain utama “La Tahzan”. Atiqah Hasiholan, Joe Taslim, dan Ario Bayu memiliki kemampuan menganalisa skenario.

Begitu menerima peran, mereka menganalisa skenario, mencari sendiri karakter sesuai pengalaman hidupnya. Misalnya Atiqah Hasiholan, selama beberapa bulan proses reading, ia mencoba menyukai Hello Kitty. Tokoh Viona memang dikisahkan sangat menggemari Hello Kitty. Maka, Atiqah rajin membeli Hello Kitty dan mengoleksinya. Ia juga akhirnya menemukan cara bicara Viona yang terkesan manja.

Lalu Ario Bayu punya pengalaman kerja paruh waktu di New Zealand. Oleh karena itu, ia bisa menjiwai tokoh Hasan, seorang pekerja yang susah. Mereka punya kemampuan membongkar pengalaman hidupnya untuk dipresentasikan ke dalam layar.

Di mana saja lokasi syutingnya?
Di lima kota, yaitu Osaka, Kobe, Wakayama, Kyoto, dan Otsu. Tetapi kota utama hanya dua untuk mengikuti karakter Viona dan Hasan. Viona adalah pelajar, maka kita ambil Kyoto sebagai kota pelajar di Jepang. Satu lagi kita butuh background Hasan sebagai pekerja, maka kita pilih Osaka sebagai kota industri.

Untuk di Kobe kita melakukan pengambilan gambar mesjid termegah. Sedangkan Wakayama untuk pengambilan kebun jeruk.

Apa kendala syuting di negeri orang?
Lebih banyak pada penyesuaian sebelum syuting. Kita diajari tata krama di sana. Orang Jepang itu sopan-santun mirip orang Jawa, jadi tidak terlalu sulit.

Sebelum syuting, pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) di Jepang memberikan informasi mengenai masyarakat Jepang. Orang Jepang memperbolehkan kita syuting asal tidak mengganggu ketertiban umum.

Jika syuting menyebabkan gangguan, masyarakat Jepang tidak akan menegur tapi melapor polisi. Polisi yang nantinya bertindak. Nah, buat saya ini sopan santun orang Jawa yang sangat halus. Jika bertemu, mereka juga selalu menyapa dan siap membantu.

Problemnya justru pada cuaca. Misalnya kita ingin mengambil momen bunga sakura, tapi ternyata sangat rentan terhadap cuaca. Begitu ada hujan dan angin, sakura habis. Sakura juga datang di waktu tertentu saja. Jika terlewati sakura sudah bergeser ke daerah lebih dingin. Akibatnya kita sempat menggeser lokasi syuting.

Bagaimana dengan perizinan?
KJRI dan production support sangat membantu kita. mereka memberitahu lokasi yang keren di sana, hingga kita dapatkan semua apa yang diinginkan. Sekitar 80 persen cerita berada di Jepang dan 20 persen di Indonesia.

Berapa lama syuting di Jepang?
Untuk mondar-mandir sekitar tiga bulan, karena kita butuh suasana musim salju, musim dingin, dan musim sakura. Kebetulan digambarkan Hasan berangkat ketika musim salju. Jadi dalam kondisi dingin kita datang untuk syuting film. Kemudian kita datang pada musim dingin, musim sakura.

Atiqah Hasiholan dan Joe Taslim di film "La Tahzan".
Dari sekian kota yang disinggahi, mana yang berkesan?

Saya suka Kyoto dan Osaka, karena kontras. Di Kyoto sangat tenang, damai, masih banyak orang pakai kimono, masih ada gerobak dorong, rumah kayu yang terawat. Sementara Osaka sudah banyak gedung-gedung tinggi dan modern. Dari dua kota ini saya bisa melihat Jepang tradisional dan modern.

Bagaimana menghadapi masalah bahasa?
Ketika sudah ada kepastian syuting di sana, saya sendiri langsung kursus intensif bahasa Jepang selama tiga bulan. Mengerti bahasa Jepang sedikit pun akan membantu saat di sana.

Sedangkan Atiqah dan pemain lainnya ada workshop dengan guru bahasa Jepang selama satu bulan. Khusus untuk skrip dengan bahasa Jepang, bagaimana pelafalan dan cara baca. Soalnya penggunaan bahasa Jepang lumayan banyak. Yang membuat gampang, para pemain ini punya kemampuan untuk meniru cara bicara bahasa Jepang.

Apa yang ingin Anda capai dalam film “La Tahzan”?
Ini film layar lebar pertama saya. Kalau banyak yang nonton, saya sudah sangat senang. Intinya karya apapun pasti ingin diapresiasi. Saya tidak bisa berekspektasi terlalu banyak. Justru sekarang bertanya-tanya bagaimana ya respons penonton? Apakah bahasa film saya sampai ke penonton  dan pesan "La Tahzan" sampai?

Untuk soundtrack mengapa memilih lagu yang dinyanyikan almarhum Uje?
Soundtrack memang harus bongkar pasang, sampai akhirnya memilih lagu (alm) Ustaz Jeffry Al Buchory. Kebetulan Uje ada lagu dengan Falcon, judulnya “Bidadari Surga”. Liriknya tentang menemukan seorang istri dan mensyukuri istrinya, cocok dengan kegalauan ketiga tokoh dalam film. Selain cocok maknanya, momentumnya tepat dan penokohan Uje juga kena.


Setelah ini ada rencana bikin film lagi?
Oh iya, sudah ada rencana bikin film kedua. Kita akan segera publikasikan next project kita yaitu “Haji Backpacker”. Ini sebuah spiritual journey, di mana syutingnya ada di satu benua, 8 negara.

Siapa yang berperan dalam karir Anda di industri film?
Banyak orang berperan dalam karir saya, guru-guru saya, tapi basic tetap orangtua. Ayah saya seorang pendongeng hebat, bahkan bisa membuat dongeng bersambung untuk anak-anaknya. Dari situlah saya bisa mendongeng dan menulis. Selain itu tentu doa orangtua.


La Tahzan tayang di bioskop mulai 2 Agustus 2013.
Simak trailer film La Tahzan berikut ini:




BACA JUGA:
Alasan lagu Ustaz Jeffry jadi soundtrack "La Tahzan"
Main film "La Tahzan", Joe Taslim dituntut fasih berbahasa Jepang
Alasan Joe Taslim mau main di film romantis
Atiqah Hasiholan mendadak jadi penggemar Hello Kitty
Atiqah Hasiholan: Joe Taslim orangnya romantis

Berita Terkini