Berkat “The Raid”, Pencak Silat Terkenal Hingga Mancanegara

Pada 23 Maret 2012 silam, “The Raid” resmi ditayangkan di bioskop. Tak hanya di Indonesia, tapi juga Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Film ini memang fenomenal dan mendapatkan cukup banyak pujian dari dunia internasional. Diputar di festival-festival film internasional seperti Festival Film Toronto, Sundance Film Festival, Sitges International Fantastic Film Festival, SXSW Film Festival, dan Festival Film Busan.
 
Saat Dublin International Film Festival, “The Raid” mendapat predikat sebagai Best Film. Saat ditayangkan di Amerika, para bintang Hollywood pun turut menonton dan memuji film ini, seperti Paris Hilton, Denzel Washington, dan Jason Statham, aktor “The Expendables” dan “Transporter”.

Kemampuan laga aktor “The Raid” ternyata mengundang minat industri film Hollywood. Iko Uwais dan Joe Taslim, mendapat kesempatan untuk bermain film Hollywood. Iko, dipercaya bintang Hollywood Keanu Reeves untuk berlaga di film terbarunya. Joe Taslim, ikut bermain dalam “Fast and Furious 6” bersama Vin Diesel.

Menyusul kesuksesan “The Raid”, Merantau Films akan membuat film sekuel “The Raid 2: Berandal”. Ditemui di markas Merantau Films di Jakarta pada Kamis (20/12), sutradara Gareth Evans bersama produser Aryo Sagantoro menceritakan kepada Yahoo! OMG! sedikit bocoran tentang “The Raid 2: Berandal”. Gareth Evans, yang meski sama sekali tidak memiliki darah Indonesia, mengaku dirinya turut bangga dapat mengusung ilmu bela diri Indonesia pencak silat hingga populer di mancanegara.

Produser Aryo Sagantoro dan Sutradara Gareth Evans (Foto: Jonathan Rian/Yahoo!)Apa tantangan untuk pembuatan film “The Raid 2”?
Gareth Evans: Ekspektasi. Itu tantangan terbesar. Dulu di “The Raid” pertama, orang tidak tahu akan seperti apa film itu, jadi kami dapat memberikan kejutan kepada penonton. Namun untuk “The Raid 2” ini, faktor kejutan itu sudang hilang. Orang akan berekspektasi film ini seperti apa.

Seperti apa perbedaan saat pembuatan “The Raid 2”?
Gareth Evans: Saat ini kami merasakan cukup banyak tekanan. Jika “The Raid” pertama kami memang membuatnya hanya untuk kepuasan diri kami sendiri, belum mempertimbangkan opini penonton. Tapi untuk sekuel kali ini, bahkan Iko Uwais juga sempat menanyakan hal ini pada saya, bagaimana tanggapan masyarakat nantinya dengan “The Raid 2”. Saya katakana padanya, kita tidak harus memikirkan opini penonton, kita buat saja seperti saat dulu “The Raid” pertama.

Cerita “The Raid 2” masih berhubungan dengan yang pertama?
Gareth Evans: Ya. Kisahnya bermula sejak hari pertama saat film “The Raid” pertama selesai. Perbedaannya ada dalam lamanya waktu dalam film ini. Jika di “The Raid” pertama semuanya terjadi dalam satu hari, “The Raid 2” akan berlangsung selama tiga atau empat tahun.  Jadi nanti ceritanya akan lebih banyak, karakternya akan bertambah, tantangannya juga makin besar.

Untuk proses produksi, lebih repot dari “The Raid” pertama?
Aryo Sagantoro: Pastinya! Banyak banget yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Di sini kan tantangannya. Seperti kalau kita menonton film luar negeri seri pertama, kemudian keluar sekuelnya, pasti kita memiliki harapan lebih.

Kami ingin tampilkan gambar-gambar yang belum pernah ditampilkan sebelumnya. Tidak ada di “Merantau”, tidak ada di “The Raid”. Film “Merantau” kan isinya penuh adegan berkelahi dengan tangan kosong, bertahan untuk hidup. Sementara di “The Raid”, terbunuh atau dibunuh. Nah untuk “The Raid 2”, adegan mobil yang tidak ada sebelumnya, perkelahian yang lebih agresif. Proyek ini memang sudah kami persiapkan dari tiga tahun yang lalu, sudah menjadi impian kami.

Berarti konsepnya memang sudah ada sejak awal?
Aryo Sagantoro: Konsepnya sebenarnya “The Raid 2: Berandal” dulu. Tapi terpaksa ditunda karena banyak adegan yang kami belum siap. Kami butuh waktu lebih panjang karena kan adegannya berat. Waktu kami membuat koreografi untuk “The Raid”, ada adegan-adegan yang kami anggap lebih pantas dan lebih sangar untuk kami tampilkan di “The Raid 2”.

Apakah “The Raid 2” akan adegan di luar ruangan? Kalau “The Raid” sebagian besar kan dilakukan di dalam ruangan.
Aryo Sagantoro: “The Raid” pertama dilakukan di dalam ruangan untuk mengatasi masalah cuaca yang tidak bisa kami kontrol. Pengalaman kami di “Merantau” harus menambah waktu produksi sebulan lebih. Akhirnya muncullah konsep satu hari di dalam gedung. Tapi di “The Raid 2”, kami mau menjual lanskap dan lain sebagainya, jadi lebih banyak di luar ruangan.

Sudah mulai syuting?

Aryo Sagantoro: Belum. Pada 1 Oktober 2012 lalu, kami adakan syukuran untuk memulai proyek “The Raid 2”. Insya Allah tanggal 19 Januari 2013 sampai awal Juli, jadi sekitar enam bulan. Ini merupakan proyek terpanjang kami, enam bulan syuting, bukan hal yang mudah.

Kalau “The Raid” pertama membutuhkan waktu berapa lama?
Sekitar tiga bulan lebih. “Merantau” sekitar empat bulan.

Lokasi syuting “The Raid 2” akan dilakukan di mana?
Lokasi syuting 90 persen dilakukan di Jakarta, sisanya Jawa Barat. Ada beberapa lokasi yang memang tidak ada di Jakarta, jadi harus dilakukan di luar.

Apakah akan ada pemain perempuan dalam “The Raid 2”? Di “The Raid” pertama kan tidak ada pemain perempuan yang jadi sorotan utama.
Gareth Evans: Kali ini ada. Dari dulu saya juga ingin ada tokoh petarung perempuan. Akan ada tokoh bernama Hammer Girl, dia menggabungkan teknik bela diri silat harimau, seperti yang digunakan di “Merantau”, tapi dia juga menggunakan dua palu di kedua tangannya. Jadi dia akan memukul lawannya dengan keras. Karakter yang sangat keren.

Gareth memang dari dulu menggemari bela diri?
Garet Evans: Oh iya. Dari kecil saya suka menonton film-film bela diri. Sejak saya terlibat di “Merantau”, saya terus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan angle yang bagus untuk adegan bela diri, gerakan kameranya akan seperti apa, kemudian apa yang mau diangkat dari bela diri itu sendiri. Bisa turut andil untuk mempopulerkan pencak silat, menjadi sebuah kehormatan untuk saya.

Sutradara Merantau, The Raid, dan The Raid 2: Berandal (Foto: Jonathan Rian/Yahoo!)Ada berbagai macam ilmu bela diri yang lain, seperti kungfu atau taekwondo, kenapa Gareth memilih pencak silat?
Gareth Evans: Kungfu sudah masuk dalam industri film selama berpuluh-puluh tahun. Film tentang silat sendiri juga sudah banyak sebenarnya, tapi belum ada dalam film itu yang menyatakan, “Seperti ini lho pencak silat.” Dari sinilah saya tergerak untuk membuat film tentang silat, dan sejalan dengan saya mempelajarinya, saya juga mendapatkan ilmu tentang filosofi pencak silat itu sendiri.

Pencak silat itu merupakan ilmu bela diri yang indah untuk disorot kamera. Saya agak terkejut saat mengetahui belum ada pembuat film yang menggarapkan dengan pantas. Saat saya menonton tayangan tentang pencak silat, yang diselipi ilmu-ilmu sihir yang menurut saya itu semua hanya omong kosong. Saya harus membuat sesuatu yang menjauhkan silat dari hal-hal berbau mistis.

Banyak orang kaget saat menonton “Merantau”, karena mereka terbiasa menonton pencak silat yang berbau mistis. Saya katakan bahwa seperti inilah pencak silat yang sebenarnya. Berkat film ini, kami sukses mempopulerkan pencak silat, tak hanya di dalam negeri tapi juga hingga ke luar negeri.

Beberapa perguruan pencak silat mengaku ke kami bahwa mereka mendapatkan banyak peserta baru, yang tidak hanya berasal dari Indonesia, tapi juga berasal dari luar negeri karena mereka ingin mempelajari apa yang mereka tonton di film kami.

Ada rencana membuat film dengan genre lain?
Gareth Evans: “The Raid 2: Berandal” akan menjadi film tentang pencak silat saya yang terakhir untuk sementara. Saya ingin mencoba membuat dua film baru, mungkin tentang kriminalitas. Kami akan istirahat sejenak, Iko Uwais dan kawan-kawan akan latihan lagi sambil kami memikirkan untuk fim berikutnya.

Toro, bagaimana sih pengalaman bekerja bersama Gareth Evans?
Aryo Sagantoro: Oke banget sih. Kami kerja bareng sejak “Merantau” sekitar 2008. Waktu itu kami bertemu juga sama-sama belum punya pengalaman film. Semua yang terlibat di “Merantau”, itu film pertama kami. Ada kepercayaan satu sama lain, itu yang paling penting.

Kami berusaha memberikan yang terbaik yang bisa kami kasih, tapi pasarnya sendiri saat itu banyak yang memandang sebelah mata. Film laga, pencak silat apalagi, siapa yang mau nonton gitu kan. Saat itu juga kan film Tanah Air juga sedang jatuh sekali.

Kami punya minat yang sama di ilmu bela diri, kami sama-sama ingin mengangkat pencak silat, dan kami percaya bahwa pencak silat apabila dikemas dengan baik bisa menjadi tontonan yang sangat menarik dan bisa menjadi kebanggaan Indonesia.

Harapan kalian untuk “The Raid 2”?
Aryo Sagantoro: Harapannya sih bisa seperti apa yang kami bayangkan. Kami punya konsep, apa yang kami lakukan adalah yang terbaik, baru setelah itu kami serahkan ke pasar. Ekspektasi penonton, seperti yang tadi kita bahas, itu menjadi tantangan kami.

Gareth Evans: Kami tidak ingin “The Raid 2” disamakan dengan “The Raid”. Karakternya mungkin akan sama, tapi perasaan saat nonton filmnya, tampilan film dan pengemasan, akan terlihat jauh lebih mantap. Akan menjadi sesuatu yang lebih segar meskipun ini sekuel.

Apa nih yang paling membedakan antara “The Raid” pertama dan kedua?
Aryo Sagantoro: Konsep “The Raid” pertama adalah roller coaster. Kami tidak memberikan kesempatan bagi penonton untuk bernapas. Baru napas sebentar, tapi sudah disikat lagi. Kalau “The Raid 2”, cara bertutur akan lebih halus. Karakter akan lebih kuat karena organisasinya lebih besar. Begitu banyak variasi, tak hanya adegan berkelahinya saja.

Gareth Evans: Di bagian awal mungkin masih bisa agak tenang nontonnya. Tapi kamu tidak akan mampu bernapas di 25 menit terakhir.

 

Berita Pilihan