Kemenangan Elemen Manusia

Kemenangan gemilang Adele dan Foo Fighters pada ajang Grammy Awards tahun ini bisa dibilang kemenangan penuh makna. Bukan kemenangan biasa.

Adele dan Foo Fighters, yang masing-masing memborong 6 dan 5 piala, membuktikan kemenangan elemen manusia dalam bermusik.

Hal itu tersirat dalam pidato pendek Dave Grohl, vokalis Foo Fighters, saat menerima piala Grammy untuk Best Rock Performance.

“Ini penghormatan hebat karena rekaman ini merupakan rekaman istimewa bagi band kami. Kami tidak pergi ke studio terbaik di dunia yang ada di Hollywood, kami tidak menggunakan komputer tercanggih yang bisa dibeli. Tapi kami justru membuat rekaman ini di garasi saya dengan beberapa mikrofon dan tape machine,” ujarnya mengenai proses penggarapan album “Wasting Light” (2011).

Lebih lanjut Dave mengatakan, “Bagi saya, penghargaan ini sangat berarti karena menunjukkan, elemen manusia dalam pembuatan musik sangatlah penting. Bernyanyi di depan mikrofon dan belajar memainkan instrumen dan belajar menggunakan keahlian Anda adalah hal yang terpenting.”

“Ini bukan mengenai menjadi sempurna, bukan mengenai supaya terdengar sangat tepat, bukan mengenai apa yang terjadi dalam komputer, tapi ini adalah mengenai apa yang ada di sini [menunjuk hati] dan di sini [menunjuk otak].”

Perkataan mantan personel Nirvana itu seperti menyentil situasi yang sedang terjadi dalam industri musik saat ini (tidak hanya di Amerika sana tetapi juga di negara kita).

Tidak sedikit musisi saat ini yang terkesan terlalu bersandar pada kecanggihan teknologi dalam menghasilkan sebuah karya musik, sehingga melupakan caranya bermusik yang baik dan bagus sesuai bakat. Begitu juga dalam hal olah vokal.

Agar suaranya terdengar merdu, sejumlah penyanyi dengan enteng menggunakan peranti canggih tertentu untuk menutupi kekurangan. Tampil lipsync di atas panggung juga masih lumrah bagi penyanyi tertentu (entah karena kurang percaya dengan suaranya sendiri atau tidak berdaya menolak permintaan penyelenggara acara yang tidak mau repot menyiapkan peralatan live).

Semua atas nama ingin gampangnya saja dan supaya terdengar (terlalu) sempurna.

Pidato Dave Grohl mendapat sambutan meriah. Hadirin berdiri dan bertepuktangan. Pidato itu seperti mengingatkan para artis agar kembali mengedepankan unsur manusia ketimbang teknologi dalam membuat musik yang bagus.

Bagaimana dengan Adele?

Memang Adele tidak merekam album “21” di garasi seperti yang dilakukan Foo Fighters, tapi bisa dibilang proses rekaman yang ia lakukan juga tergolong sangat menghargai peranan unsur manusia. Apalagi produsernya, Rick Rubin, melarang pemakaian music sample dan alat musik elektronik dalam pembuatan album itu.

Untuk lagu “Someone Like You”, misalnya. Di samping liriknya yang diangkat dari kisah nyata sendiri, lagu itu juga sangat mengandalkan emosi dan kekuatan suara emas Adele yang hanya diiringi denting piano.

Ya, di zaman yang serba canggih ini memang sulit menghindari peranan teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan, termasuk dalam bermusik. Tapi bukan berarti lantas semuanya jadi terlalu tergantung pada teknologi dan kemudian bahkan mengabaikan unsur manusia, yang seharusnya menjadi elemen sangat penting dalam sebuah karya seni seperti musik.

Tidak perlu khawatir. Masih banyak pihak yang menghargai dan menghormati musik atau lagu yang kental dengan unsur manusiawi.

Beberapa waktu lalu, Adele dan Foo Fighters telah membuktikannya.

Benny Chandra (www.bennychandra.com)


LIHAT JUGA:

GALERI FOTO: Para pemenang Grammy Awards ke-54
GALERI FOTO: 25 Penyanyi wanita terbaik
5 fakta yang belum kamu ketahui tentang Adele
10 Fakta seputar Kurt Cobain
Single terbaru Besok Bubar
Kreasi band asal Yogyakarta

Berita Pilihan