Dilema Bisnis Lagu Bekas

Sebuah perusahaan pemula asal Boston, AS, sejak Oktober 2011 lalu menawarkan layanan jual-beli lagu bekas berformat digital. Sebuah konsep yang mungkin terasa tidak masuk akal, tapi nyata.

ReDigi, nama perusahaan itu, punya cara sendiri untuk meyakinkan bahwa model bisnis mereka masuk akal serta sah secara hukum — seperti halnya penjualan album fisik bekas.

Penggemar musik yang mungkin sudah bosan dengan koleksi MP3 mereka bisa menjualnya lewat layanan ReDigi, yang mulai diuji coba sejak Juli lalu. Tapi sebelumnya, mereka harus memasang aplikasi yang berfungsi mencari dan memverifikasi lagu apa saja di dalam komputernya yang boleh dijual secara sah di bursa ReDigi.

Pihak ReDigi mensyaratkan, hanya lagu digital orisinal yang dibeli lewat toko musik digital resmi saja yang bisa ditawarkan. Sedangkan hasil salinan dari album fisik, seperti CD dan kaset, tidak diperkenankan.

Nantinya, jika lagu yang ditawarkan laku terjual, aplikasi itu secara otomatis bakal menghapus semua berkas lagu terkait di komputer untuk memastikan perpindahan kepemilikan atas lagu bekas yang ditawarkan.

Sang penjual akan menerima US 32 sen untuk setiap penjualan lagu digital bekas miliknya. ReDigi sendiri menawarkannya kepada pengunjung dengan harga US 79 sen per lagu, lebih murah ketimbang harga di toko musik digital online pada umumnya. Kepada artis dan perusahaan rekaman terkait, pihak ReDigi menjanjikan pembagian hasil dari penjualan lagu digital bekas di situsnya.

Cukup menarik, bukan? Sayangnya, hingga sekarang layanan tersebut hanya tersedia bagi pasar Amerika.

Meski aturan penjualan cukup jelas, tampaknya ReDigi belum berhasil meyakinkan pihak asosiasi industri rekaman Amerika (Recording Industry Association of America/RIAA) untuk mendukung bisnisnya.

Seperti dikutip Ars Technica dan CNET, lewat surat yang dikirim bulan November lalu, pihak RIAA malah meminta ReDigi agar segera menghentikan layanan jual-beli itu karena dianggap bertentangan dengan hukum yang berlaku di Amerika Serikat.

Menanggapi permintaan itu, pihak ReDigi tetap bertahan dengan keyakinan bahwa teknologi yang mereka gunakan mampu melindungi hak dari pemegang hak cipta atas lagu digital bekas yang dijual lewat situs mereka.

Seperti dikutip sebuah tulisan blog The New York Times, ReDigi mengatakan bahwa bentuk perlindungan hak cipta yang mereka lakukan terhadap lagu digital bekas tidak mungkin ada dalam bisnis penjualan album fisik bekas, di mana unit fisiknya sudah dijual lagi tapi salinannya masih tertinggal untuk bisa tetap dipakai.

Di luar pertentangan antara RIAA dan ReDigi, sebenarnya menghadapi keberadaan bisnis jual beli lagu digital bekas seperti itu adalah sebuah dilema. Setidaknya untuk saat ini. Kenapa?

Di satu sisi, belum ada aturan jelas mengenai penjualan berkas digital bekas, sehingga rentan dianggap melanggar hukum terkait yang sudah berlaku sebelumnya. Di samping itu, pendapatan dan keberadaan toko musik digital penjual lagu digital pada umumnya bisa terancam.

Pasalnya, meski berstatus bekas, kualitas lagu digital yang ditawarkan ReDigi tidak mengalami perubahan atau penyusutan seperti layaknya sebuah barang bekas pakai.

Namun di sisi lain, apa yang ditawarkan perusahaan semacam ReDigi itu patut dihargai karena merupakan sebuah terobosan dalam menawarkan layanan jual-beli lagu digital bekas secara resmi. Apalagi musisi dan perusahaan rekaman juga tetap akan menikmati bagian dari pendapatan yang diperoleh.

Ngomong-ngomong, bagaimana bila nanti ada juga yang menawarkan layanan jual beli lagu digital bekas seperti itu di Indonesia? Semoga pihak-pihak terkait di sini bisa bersiap dari sekarang. Supaya tidak mendadak panik atau seperti kebakaran jenggot.

Benny Chandra bisa dikunjungi di blognya di sini.

Berita Terkini